Wanita Menyentuh Kemaluan Suaminya, Apakah Membatalkan Wudhu?

Pertanyaan

Apa hukumnya bagi isteri yang menyentuh kemaluan suaminya, apakah membatalkan wudhu? Apakah wudunya batal, baik dengan penghalang atau tidak, atau dengan syahwat atau tidak? Apakah bersalaman dengan isteri dan menyentuh istri membatalkan wudhu, baik dengan syahwat atau tidak dengan syahwat? Apakah berciuman membatalkan wudhu suami isteri?

Alhamdulillah.

Pertama:

Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat dalam hal
menyentuh kemaluan, apakah membatalkan wudhu atau tidak? Telah dijelaskan
dalam jawaban soal no. 82759
bahwa pendapat yang kuat adalah jika menyentuhnya disertai dengan syahwat,
maka dia membatalkan wudhu.

Kedua:

Jika seorang wanita menyentuh kemaluan suaminya dengan
syahwat, maka hal itu membatalkan wudhunya, jika tidak dengan syahwat, maka
tidak batal wudhunya.

Ulaisy berkata dalam kitab ‘Manhul Jalil Syarh Mukhtashar
Khalil’ (1/113), “Menyentuh kemaluan orang lain, hukumnya sama dengan
batasan tujuan dan kenikmatan (syahwat)”

Ketiga:

Jika kami katakan batal, maka disyaratkan bahwa hal itu
apabila tidak ada penghalang. Inilah pendapat jumhur ulama. Yaitu bahwa jika
seorang isteri menyentuh kemaluan suaminya dengan penghalang, maka tidak
membatalkan wudhunya, walaupun dengan syahwat.  Berdasarakan riwayat Abu
Hurairah radhiallahu anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
beliau bersabda,

إذا
أفضى أحدكم بيده إلى فرجه ليس بينهما سترة فليتوضأ (رواه الشافعي في مسنده
(1/12) , وصححه الشيخ الألباني في صحيح الجامع)
 

“Jika salah seorang dari kalian menyentuh
kemaluannya dengan tangannya tanpa penghalang, maka hendaknya dia berwudhu.”
(HR. Syafii dalam musnadnya, 1/12, dinyatakan shahih oleh Syeh Al-Albany
dalam Shahih Al-Jami)

Perhatikan: Hasyiah Dasuki, 1/120, Mughni Muhtaj, 1/1-2,
Mathalib Ulin Nuha, 1/143

Keempat:

Jika seorang suami bersalaman dengan isterinya, atau
menciumnya, atau dicium isterinya, semua itu tidak membatalkan wudhunya
walaupun dengan syahwat, selama tidak ada sesuatu yang keluar darinya.
Berdasarkan riwayat Aisyah radhiallahu anha, sesungguhnya Nabi shallallahu
alaihi wa sallam, 

قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ 
(رواه الترمذي، رقم 86، والنسائي ،  1/104 وابن ماجه، رقم  502)

“(Nabi sallallahu’alaihi wa sallam) mencium sebagian istrinya
kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu.” (HR. Tirmizi, no. 86 dan
Nasa’o, 1/104. Ibnu Majah, no. 502).

Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah berkata, “Yang paling
kuat dan paling benar dari pendapat-pendapat tersebut adalah bahwa hal
tersebut tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Yaitu bahwa jika seorang
suami menyentuh isterinya atau menciumnya hal itu tidak membatalkan wudhu
menurut pendapat yang paling shahih. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam ‘Mencium salah seorang isterinya, kemudian beliau shalat tanpa
berwudhu lagi.” Juga karena asalnya adalah terjaganya wudhu dan kesucian,
maka tidak boleh dikatakan membatalkan wudhu karena sesuatu kecuali dengan
dalil yang kuat dan tidak ada yang membantahnya. Sedangkan dalam masalah ini
tidak ada dalil yang kuat menunjukkan batalnya wudhu karena menyentuh
wanita.” (Majmu Fatawa, 17/219)

Wallahua’lam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top