Sanggahan Atas Siapa Saja dari Kelompok Rafidhah Yang Mengklaim. Bahwa Abu Bakar, Umar dan Kedua Putrinya Berusaha Untuk Membunuh Nabi -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam-

Pertanyaan

Wahai saudara-saudaraku, saya seorang muslim sunni, suatu hari saya membuka situs youtube dan saya melihat potongan video milik salah satu ulama syi’ah yang menyatakan bahwa ‘Aisyahlah yang telah membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- -na’udzubillah-. Bahkan usaha pembunuhan tersebut terjadi tiga kali, dari Abu Bakar, Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhuma- melalui kedua putrinya Hafshah dan ‘Aisyah yang merupakan istri-istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Tiga upaya pembunuhan tersebut disebutkan pada salah satu situs mereka pada link berikut ini: (Link sudah terhapus). Dan yang menjadikan saya khawatir adalah hadits ‘Aisyah: “Kami meminumkan (obat) kepada Rasulullah…”. Makna hadits tersebut bahwa Rasulullah melarang mereka untuk meminumkan obat kepadanya, namun mereka tetap meminumkannya, dan ketika beliau sadar, beliau menanyakan mereka atau mencelanya, dan memarahi ‘Aisyah, dan setelah kejadian itu Nabi jatuh sakit, lalu meninggal dunia. Orang-orang syi’ah berkata: “Aisyah telah meracuninya”. –Tiada daya dan upaya kecuali milik Allah-.

Alhamdulillah.

Pertama:

Sebelum menjawab pertanyaan
anda wahai saudarau yang mulia, harus diperhatikan dua perkara berikut ini:

1.Ketahuilah
bahwa Rafidhah adalah sebohong-bohongnya kelompok yang menisbahkan dirinya
kepada Islam, agama mereka dibangun di atas kebohongan mereka, mereka tidak
memiliki musuh dan menaruh rasa dengki mereka, mencela mereka pada setiap
siang dan malamnya kecuali para sahabat –radhiyallahu ‘anhum-.

            Syeikh Islam Ibnu
Taimiyah –rahimahullah- berkata:

“Para ulama sepakat melalui
riwayat dan sanad bahwa Rafidhah adalah kelompok yang paling bohong,
kedustaan dalam diri mereka sejak lama, oleh karenanya para imam dalam Islam
mengenali mereka karena banyak melakukan kebohongan.

Asy Syafi’i berkata:

“Saya tidak pernah melihat
seseorang yang paling bersaksi dengan kedustaan dari pada Rafidhah”.

Muhammad bin Sa’id al
Asbahani berkata:

“Saya mendengar seorang teman
berkata: “Ajarkan ilmu kepada siapapun yang kau temui kecuali Rafidhah,
karena mereka mamalsukan hadits-hadits dan menjadikannya sebagai agama”.

(Minhajus Sunnah: 1/59)

2.Ketahuilah
bahwa tidak boleh bagi seorang muslim untuk melihat situs-situsnya ahli
bid’ah secara umum, dan khususnya situs kelompok Rafidhah, juga tidak
dibolehkan begi seorang muslim membaca kitab-kitab mereka, kecuali bagi
seseorang yang kuat pemahaman agamanya, dan memiliki ilmu tentang pintu
masuk dan keluar para ahli kesesatan.

Baca juga jawaban soal nomor:
126041.

Kedua:

Tidak tersedianya link yang
tersambung sebagaimana dalam pertanyaan di atas, menguatkan apa yang sudah
kami sampaikan bahwa Rafidhah adalah kelompok yang paling berdusta yang
menisbahkan dirinya kepada Islam, mereka telah mencampur aduk kedustaan
mereka dengan agama Islam: rasa dengki mereka kepada para sahabat Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam-, mengolok-olok mereka, mengumpat mereka, mengkafirkan,
tuduhan zina yang mereka tujukan kepada ‘Aisyah yang suci –radhiyallahu ‘anha-,
maka seseorang tidak akan merasa heran jika mengetahui hakekat mereka pada
saat membaca artikel seperti di atas yang berdasarkan pada kebodohan,
kedustaan, tipu muslihat. Penulisnya telah mengklaim bahwa Umar bin Khattab
–radhiyallahu ‘anhu- mencoba untuk menculik Nabi –shallallahu ‘alaihi wa
sallam- dan ingin membunuhnya, namun ia gagal pada dua kali usahanya, dan
berhasil pada ketiga kalinya setelah berkoalisi dengan Abu Bakar ash Shiddiq,
Hafshah binti Umar, dan ‘Aisyah binti Abu Bakar –radhiyallahu ‘anhum jami’an-.
Untuk menjawab pernyataan mereka yang menyesatkan di atas dilihat dari dua
sisi: yaitu secara global dan secara rinci:

Adapaun jawaban yang secara
global adalah sebagai berikut:

1.Telah
ditetapkan dan tidak perlu diragukan lagi bahwa sebenarnya tersedia banyak
kesempatan bagi kedua sahabat yang mulia Abu Bakar dan Umar bersama
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, mereka berdua adalah menterinya,
kedua sahabatnya, menikahkan kedua putrinya dengan beliau, beliau ditemani
Abu Bakar pada saat hijrah dari Makkah ke Madinah selama 10 hari dalam
perjalanan, kejadian tersebut tidak asing lagi bagi umat Islam maupun
orang-orang kafir, oleh karenanya para sahabat yang mulia telah memilih
mereka berdua untuk menjadi amir (pemimpin) bagi mereka setelah wafatnya
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bagaimana mungkin akan masuk
akal jika mereka mengklaim bahwa para sahabat tidak memiliki kesempatan
untuk membunuh Nabi kecuali satu atau dua kali kesempata saja, faktanya
banyak sekali kesempatan mereka bersama beliau. Klaim mereka bahwa Abu Bakar
dan Umar ingin membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah bathil.
Pencetus pendapat tersebut sebenarnya mengetahui bahwa nantinya akan menjadi
lelucon bagi dunia karena pendapatnya yang rusak dan mereka sudah kehilangan
agama, akal dan rasa malunya. Sudah menjadi tidak penting bagi mereka akan
mendapatkan cacian dari ummat, karena mereka sudah dipenuhi rasa dengki
kepada para sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, mencoba untuk
merusak citra mereka. Mana ada orang yang berakal yang akan simpati kepada
mereka setelah melihat apa yang mereka lakukan kepada umat Islam dari
pembunuhan dan pengusiran, dan apa yang diperbuat oleh pendahulu mereka dari
mulai penipuan dan makar kepada Ahlus Sunnah, mana ada orang yang berakal
yang akan membenarkan kebathilan dan kedustaan mereka.

2.(Kalau misalnya
klaim mereka benar) sebenarnya lebih banyak tersedia kesempatan bagi
istri-istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk membunuh beliau,
khususnya ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- yang memiliki jatah dua malam setiap
Sembilan malam sekali bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena
Saudah –radhiyallahu ‘anha- sudah memberikan malamnya kepada ‘Aisyah. Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- adalah suami mereka, satu rumah bersama mereka, tidur di
ranjang mereka. Apakah selama bertahun-tahun tidak ada kesempatan mereka
untuk membunuh beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-?!. Seperti itulah
kelompok Rafidhah berfikir, demikianlah jalan fikiran mereka yang rela untuk
menggadaikannya kepada para syeikh mereka dari Persia, kemudian mereka
leluasa menyebarkannya ke kanan dan ke kiri mereka, mereka terus menghiasi
kebatilan mereka untuk membenarkan pendapatnya, khurafat untuk dijadikan
kebenaran, kesyirikan untuk dijadikan tauhid. Segala puji hanya milik Allah
yang telah menjernihkan akal sehat kaum muslimin dari kotornya pemikiran
tersebut, Allah telah memuliakan ham-hamba-Nya dengan agama yang suci,
mengkhususkan bagi Nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- orang-orang yang
menjadi sebaik-baik manusia setelah para Nabi untuk menguatkan dakwahnya,
Dia juga mengkhususkan bagi Nabi-Nya beberapa wanita yang suci untuk menjadi
istrinya, dan menjadi ummahat mukminin (Ibu bagi orang-orang mukmin).
Sesungguhnya pemikiran bathil seperti itu yang dipaksakan oleh kelompok
Rafidhah akan menjadikan orang bingung, maka bagaimana akan menjadi aqidah
yang kuat dan menenangkan ?!.

Adapun sanggahan kepada
mereka secara terperinci adalah sebagai berikut:

1.Seorang penulis
dari kelompok Rafidhah –yang merelakan dirinya di juluki dengan nama
saudaranya, yaitu; Abu Lu’luah , menyebutkan: “Bahwa upaya pertama kalinya
Umar mencoba untuk membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada waktu
sebelum masuk Islam!, Apakah penulis majusi ini memahami apa yang ia tulis
dan ia katakan ?!, Bagaimana niat Umar –ketika dalam keadaan syirik- untuk
membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dianggap upaya pembunuhan?!,
agama Umar dahulu berlawanan dengan Islam, dan setelah masuk Islam, kenapa
sampai menunggu masuk Islam?!. Orang-orang musyrik beberapa kali berkumpul
untuk membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, juga di banyak
peperangan. Adalah sesuatu yang wajar jika Umar melakukannya pada saat ia
dalam keadaan syirik dengan banyak tuhan, sementara kaum muslimin mengajak
untuk bertuhid dan menganggap perbuatan bodoh menyembah banyak tuhan.

Semua ini kalau kita anggap
kisah yang ada dalam makalah mereka benar !. Keluarnya Umar dan mengancam
untuk membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Yang benar dan qath’i
adalah: bahwa kisah tersebut adalah mungkar, tidak memiliki sanad yang
shahih dan selamat dari celah. Bagaimana mungkin kelompok Rafidhah memiliki
ilmu untuk meneliti dan sanad hadits ?!.

Kisah yang disebutkan dan
yang terkenal adalah tentang masuk Islamnya Umar, yang sebelumnya ia ingin
membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. (HR. Ibnu Sa’d dalam “Ath Thabaqaat”:
3/267-269, dan Daruquthni dalam “As Sunan”: 1/123, dan al Hakim dalam “Al
Mustadrak”: 4/59-60, dari jalur Ishaq bin al Azraq, dari al Qosim bin Utsman
al Bashri, dari Anas).

Al Qosim bin Utsman al Bashri,
dialah celahnya hadits tersebut.

Adz Dzahabi –rahimahullah-
dalam biografinya:

“Al Qosim bin Utsman al
Bashri dari Anas, Al Bukhori berkata: “Ia memiliki hadits yang tidak perlu
diikuti”. Saya (adz Dzhahabi) berkata: “Ishaq al Azraq meriwayatkan
kepadanya dengan matan yang dihafal, dan kisah masuk Islamnya Umar, dan itu
adalah mungkar sekali”. (Mizan I’tidaal: 3/375)

2.Upaya kedua
untuk membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang
dituduhkan oleh Rafidhoh adalah terjadi sekembalinya Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- dari “Tabuk”, sekelompok orang-orang munafik mendatangi
Nabi dan ingin membunuhnya dengan cara mau dilemparkan dari tempat yang
tinggi, namun Allah telah menyelamatkannya. Upaya pembunuhan tersebut
dilakukan pada sebuah tempat yang bernama: “Aqabah”.

            Ibnul Jauzi
–rahimahullah- berkata:

“Hadits ini bermasalah bagi
pemula; karena tempat Aqabah jika disebutkan akan mengisyaratkan kepada kaum
Anshar yang membaiat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal bukan itu
yang dimaksud. Aqabah yang dimaksud adalah yang berada di dekat daerah Tabuk,
orang-orang munafik berhenti di sana dan membelot dari komitmen awal”. (Kasyful
Musykil min Hadits ash Shahihain).

Sejarahnya benar, tidak ada
masalah, hanya saja kelompok Rafidhah sang pendusta mengklaim bahwa Abu
Bakar dan Umar –radhiyallau ‘anhuma- termasuk mereka yag membelot dari
golongan orang-orang munafik yang berusaha membunuh Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam-, tuduhan tersebut adalah tuduhan tidak berarti dan tidak
berharga, waktu lebih berharga dari pada terbuang untuk membantah tuduhan
tersebut. Kalau saja kami tidak menginginkan kembalinya orang-orang yang
terpedaya oleh mereka ke jalan yang benar, maka kami tidak akan peduli, juga
kami ingin mengokohkan hati umat ahlus sunnah secara umum kepada kebenaran
yang Allah sudah berikan hidayah kepada mereka untuk mengikutinya.

Imam Muslim (2779)
meriwayatkan dari jalur al Walid bin Jumai’ dari Abu Thufail berkata:

كَانَ بَيْنَ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْعَقَبَةِ وَبَيْنَ
حُذَيْفَةَ بَعْضُ مَا يَكُونُ بَيْنَ النَّاسِ ، فَقَالَ : أَنْشُدُكَ بِاللهِ
؛ كَمْ كَانَ أَصْحَابُ الْعَقَبَةِ ؟ ، قَالَ : فَقَالَ لَهُ الْقَوْمُ :
أَخْبِرْهُ إِذْ سَأَلَكَ ، قَالَ

– يعني حذيفة –
: كُنَّا نُخْبَرُ أَنَّهُمْ أَرْبَعَةَ عَشَرَ ، فَإِنْ كُنْتَ
مِنْهُمْ فَقَدْ كَانَ الْقَوْمُ خَمْسَةَ عَشَرَ ، وَأَشْهَدُ بِاللهِ أَنَّ
اثْنَيْ عَشَرَ مِنْهُمْ حَرْبٌ للهِ وَلِرَسُولِهِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
، وَيَوْمَ يَقُومُ الأَشْهَادُ ، وَعَذَرَ ثَلاثَةً ، قَالُوا : مَا سَمِعْنَا
مُنَادِيَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلا عَلِمْنَا
بِمَا أَرَادَ الْقَوْمُ ، وَقَدْ كَانَ فِي حَرَّةٍ ، فَمَشَى ، فَقَالَ :
إِنَّ الْمَاءَ قَلِيلٌ فَلا يَسْبِقْنِي إِلَيْهِ أَحَدٌ ، فَوَجَدَ قَوْمَاً
قَدْ سَبَقُوهُ ، فَلَعَنَهُمْ يَوْمَئِذٍ .

“Ada seseorang dari penduduk
Aqabah (yang dekat dengan daerah Tabuk) dan Hudzaifah berada di antara
kerumunan orang, ia berkata: “Demi Allah; Berapa banyak orang yang berkumpul
di Aqabah ?. Orang-orang berkata kepadanya: “Katakan padanya saat ia
bertanya”. Hudzaifah berkata: “Kami diberitahu bahwa jumlah mereka 14 orang,
dan jika engkau termasuk dari mereka berarti jumlah mereka 15 orang, dan aku
bersaksi kepada Allah bahwa 12 orang di antara mereka memerangi Allah dan
Rasul-Nya di dunia dan di pengadilan akherat, dan tiga orang lainnya
dimaafkan”. Mereka berkata: “Kami tidak mendengar penyeru Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- dan kami tidak mengetahui apa yang diinginkan, yang
tadinya di daerah “Harrah” (dekat Madinah) lalu berangkat. Maka ia berkata:
“Sesungguhnya persediaan sedikit, maka janganlah seseorang ada yang
mendahuluiku, dan ia mendapatkan suatu kaum telah mendahuluinya, maka dia
melaknatnya pada saat itu”.

Kesimpulan ceritanya adalah
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim –rahimahullah-, apakah masuk akal
untuk dibenarkan bahwa Abu Bakar dan Umar –radhiyallhu ‘anhuma- meninggalkan
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kemudian memakai cadar dan
berusaha untuk membunuh beliau. (Kalau memang benar) kenapa keduanya tidak
melakukan itu sebelum mereka berangkat ke Tabuk?, juga kenapa keduanya tidak
melakukannya pada saat bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- saja,
hal itu akan lebih memudahkan?!. Allah –Ta’ala- telah mewahyukan kepada
Nabi-Nya Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang nama-nama mereka,
dan telah dimaafkan tiga orang dari mereka. Bagaimana mungkin mereka yang
mulia termasuk dari kelompok munafik? Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
juga tidak memperingatkan ummat Islam untuk menjauhi mereka ?!, bagaimana
pula pujian Nabi kepada mereka berdua, dan menyuruh untuk mendahulukan
mereka berdua, dan ridha dengan persahabatan mereka berdua, juga ridha
dengan nasab keduanya. Bagaimaba pula Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu-
berbaiat kepada kedua imam Abu Bakar dan Umar kalau ia mengetahui bahwa
keduanya termasuk orang munafik?!, bahkan ia memastikan bahwa Umar –radhiyallahu
‘anhu- bukan termasuk orang-orang munafik. Karena ia (Hudzaifah) telah
memiliki data orang-orang munafik dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
?!.

Banyak pertanyaan yang masuk
pada hati yang bersih, dan akal yang sehat, dan tidak ada jawaban untuk
pertanyaan tersebut kecuali apa yang diklaimkan Rafidhah adalah kedustaan
yang nyata, cara berfikir yang jahat yang sehari-hari mereka hidup
bersamanya, jiwa mereka yang sakit, aqidah yang rusak yang mereka yakini,
semua hal tersebut mendorong mereka untuk selalu membuat kisah-kisah
khurafat yang tidak bisa dipercaya, yang banyak ditertawakan oleh
orang-orang yang memiliki akal sehat.

Perawi kisah di atas adalah
Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu-, ia mengabarkan orang yang melakukan
perbuatan makar tersebut adalah “Ahlu Aqabah” (penduduk Aqabah), mana yang
menunjukkan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah bagian dari mereka ?!. Apa yang
akan dilakukan oleh kelompok Rafidhah dengan beberapa riwayat yang dengan
jelas menyebutkan nama-nama orang munafik, dan tidak ada di antara mereka
disebutkan nama para sahabat yang mulia ?!.

Ibnu Katsir –rahimahullah-
berkata:

“Ath Thabrani menjelaskan
dalam “Musnad Hudzaifah” tentang penamaan “Ashabul Aqabah”, kemudian ia
meriwayatkan dari Ali bin Abdul Aziz dari Zubai bin Bakkar bahwa ia berkata:
“Mereka adalah Mu’attab bin Qusyair, Wadi’ah bin Tsabit, Jaddun bin Abdilah
bin Nabtal bin Harits dari bani Amr bin ‘Auf, Al Harits bin Yazid ath Tha’i,
Aus bin Qaidzi, al Harits bin Suwaid, Sa’d bin Zurarah, Qais bin Fahd,
Suwaid dan da’is dari bani Hubli, Qais bin Amr bin Sahl, Zaid bin Lushait,
Salamah bin Hamam keduanya dari bani Qainuqa’ yang berpura-pura masuk
Islam”. (Tafsir Ibnu Katsir: 4/182-183)

Penulis makalah dari Rafidhah
di atas mencampur aduk dengan riwayat “Ibnu Hazm” –rahimahullah- sebanyak
dua kali:

1.Dia mengklaim
bahwa Al Walid bin Jumai’ mempunyai riwayat yang di dalamnya disebutkan
nama-nama sahabat yang mengikuti perbuatan makar dan rencana pembunuhan di
Aqabah. Meskipun Ibnu Hazm mendha’ifkan perawi tersebut, tetap wajib
diterima jika ada uang menguatkannya, dan baik haditsnya.

2.Penyebutan
kitabnya Ibnu Hazm yang dinamakan “Al Muhalla” menjadi salah satu rujukan
dari riwayat di atas yang di situ tertera beberapa nama para sahabat.

Perhatikan teks aslinya
berikut ini:

Ibnu Hazm dalam “Al Muhalla
bil Atsaar”, juz: 12, hal.2203, kitabul hudud (bab hukum dera), ia berkata:

“adapun hadits Hudzaifah
adalah saqith (jatuh/lemah); karena dari jalur Al Qalid bin Jumai’,
riwayatnya rusak (tidak diterima), dan kami tidak melihat bahwa ia
mengetahui siapa yang memalsukan hadits; karena ia telah meriwayatkan
beberapa riwayat yang termasuk di dalamnya: Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah,
Sa’d bin Abi Waqqash –radhiyallahu ‘anhum- mereka semua ingin membunuh Nabi
–shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan keluarganya, dan dilemparkan dari bukit
“Aqabah” ke “Tabuk” ?!.

Kami melihat bahwa Ibnu Hazm
tidak menerima haditsnya Walid bin Jumai’. Realitanya, Wlid termasuk di
antara sanad Bukhori dan Muslim, Sunan Abu Daud, Shahih Tirmidzi, Sunan
Nasa’i. Realitanya, bahwa banyak dari buku-buku para perawi mereka
menganggap Walid bin Jumai’ tsiqah”.

Sanggahan terhadap pernyataan
di atas adalah:

1.Al Walid bin
Jumai’ bukan termasuk sanadnya Bukhori, tidak ada satu pun hadits di dalam
kitab shahihnya yang diriwayatkan oleh Walid. Namun ia meriwayatkan di luar
kitab shahihnya, yang demikian tidak bisa dikatakan sebagai salah satu sanad
Bukhori.

2.Ibnu Hazm
–rahimahullah- telah melakukan kesalahan dalam mensifati Walid dengan “Al
Halak” (rusak/hancur), dan julukan yang lebih tepat adalah: “Shaduq Yahm”
(Jujur tapi hilang akalnya), sebagaimana yang disampaikan oleh al Hafidz
Ibnu Hajar dalam “At Taqriib”.

Dan di dalam “Al Jarh wat
Ta’diil” karangan Ibnu Abi Hatim: 9/8:

“Dari Imam Ahmad dan Abi
Zar’ah keduanya berkata tentang dia: “Tidak masalah”, dan Yahya bin Mu’in
menguatkannya, dan Abu Hatim Ar Raazi berkata: “Haditsnya bisa diterima”.

3.Tidak diketahui
di dunia ini satu sanad pun yang menyebutkan para sahabat yang mulia bahwa
mereka ikut dalam rencana pembunuhan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
dan Ibnu Hazm mendha’ifkan perawi tersebut sejak awal, sebelum ia
meriwayatkan hadits tersebut. Yang bisa difahami dari pembicaraannya –rahimahullah-
bahwa penyebutan nama-nama para sahabat karena disisipkan ke dalam sanad al
Walid yang asli, yang sebenarnya tidak ada. Dan apa yang telah dikatakan
oleh Ibnu Hazm –rahimahullah- dalam masalah ini: “dan kami tidak menganggap
ia mengetahui siapa yang memalsukan hadits tersebut”. Hadits tersebut dengan
penyebutan para sahabat adalah kedustaan yang nyata kepada Walid bin Jumai’
–rahimahullah-, dari sini maka diwajjibkan untuk memperingatkan kaum
muslimin atas apa yang telah dihapus oleh seorang Rafidhah di atas dari
perkataan Ibnu Hazm –rahimahullah-, karena ia mengatakan langsung setelah
itu:

            “Inilah
kebohongan yang dibuat yang Allah akan melaknat pemalsunya, maka kita akan
tersbebas untuk bergantung kepadanya, dan segala puji hanya milik Allah
Tuhan semesta alam”.

(Al Muhalla: 11/224)

Lihatlah bagaimana ia
mensisipkan dan mencampurkan (riwayat satu dengan lainnya) dalam periwayatan
dari Ibnu Hazm –rahimahullah-. Doa yang dipanjatkan oleh Ibnu Hazm –rahimahullah
di atas- tidak mungkin terkena kecuali kepada seorang Rafidhah; karena
mereka lah yang berbuat dusta, dan di selipkan pada sanad yang benar dan
sudah dikenal.

4. Jika kami
menjadikan penyebutan nama-nama orang munafik yang disebutkan oleh Az Zubair
bin Bakkar yang mana nama-nama mereka tertera dalam riwayat al Baihaqi dalam
“Dalail Nubuwah” termasuk dalam kategori dha’if dan tidak diterima, maka
kami berkata: “Sesungguhnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- meminta
Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu- untuk mengecek nama-nama mereka, ia adalah
intelejen Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka dari mana mereka
mengetahui nama mereka yang bercadar/bertopeng dari orang-orang munafik yang
mau membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ?!. Untuk menjawab
pertanyaan tersebut: kelompok Rafidhan berbohong dan mengklaim bahwa
hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu- lah yang mengabarkan nama-nama mereka !,
lihatlah bagaimana mereka menjadikan Hudzifah berkhianat sebagai intelejen,
hal tersebut tidak penting bagi mereka untuk mewujudkan tujuan mereka
mencela dan menuduh para sahabat yang mulia –radhiyallahu ‘anhum-, mereka
juga tidak memperdulikan besarnya anggaran untuk tujuan bathil tersebut.

            Seorang Rafidhah
Majusi berkata dalam artikelnya:

“Pada zaman pemerintahan
Utsman bin Affan, Hudzaifah bin Yaman –radhiyallahu ‘anhu- menjelaskan
nama-nama mereka yang mencoba untuk membunuh Nabi di “Aqabah”, di antara
nama-nama tersebut adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Sa’d bin Abi Waqqash,
Abu Musa al Asy’ari, Abu Sufyan bin Harb, Thalhah bin Ubaidillah dan
Abdurrahman bin ‘Auf “.

Sumber: (“Al Muhalla” Ibnu
Hazm Al Andalusi, jilid: 11, hal. 225, dan “Muntakhob Tawarikh”, hal. 63).

Selesai, dengan beberapa
kesalahan dari sisi susunan bahasa.

Bantahan terhadap pernyataan
di atas dapat disimpulkan berikut ini:

a.Kalian dengan
pernyataan di atas, telah menjadikan Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu-
berkhianat sebagai intelejen Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika
demikian maka layak untuk tidak diterima perkataannya!. Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- telah mempercayakan kepada Hudzaifah secara umum untuk
merahasiakan nama-nama orang munafik, maka bagaimana kalian ridha kepadanya
padahal ia berkhianat dengan amanahnya?!. Sedangkan kami membantah bahwa
Hudzaifah mengkhianati amanah Nabi, kami juga memastikan bahwa ia tidak
melakukan apa yang kalian tuduhkan kepadanya.

b.Mana Riwayat
yang menyatakan bahwa Hudzaifah menyebutkan nama-nama orang munafik yang mau
membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ?!, mana sanadnya?

c.Apa yang mereka
sebutkan dalam artikel mereka, menguatkan pendapat kami bahwa Al Walid bin
Jumai’ bebas dari kebohongan dan penyebutan nama-nama para sahabat yang
mulia. Hadits yang ia riwayatkan tidak ada penyebutan nama-nama para sahabat,
sedang Rafidhah menisbahkan penyebutan nama-nama para sahabat kepada
Hudzaifah –radhiyallahu ‘anhu! Penguatan riwayat Al Walid bukan berarti
riwayatnya  yang menyebutkan nama-nama para sahabat diterima; karena
sanadnya tidak ditemukan, bahkan riwayat tersebut juga tidak ada.

d.Penyebutan “Al
Muhalla” sebagai rujukan adalah termasuk “Tadlis” (penipuan) dan “Talbis” (mencampuradukkan
yang hak dan bathil). Karena Ibnu Hazm –rahimahullah- mendustakan riwayat
yang mengikut sertakan nama-nama para sahabat, dan tidak takut kepada
seseorang pembesar Rafidhah.

e.Penyebutan
“Muntakhab Tawarikh” sebagai rujukan tidak bermanfaat bagi mereka, dilihat
dari dua sebab:

I.Pengarang kitab
tersebut adalah Muhammad Hasyim al Khurrasani, ia seorang Rafidhah tulen,
yang meninggal belakangan pada tahun 1352 H. Masa dia sangat dekat dengan
pendusta yang sedang kita diskusikan.

II.Tidak diterima
riwayat seseorang kecuali dengan sanadnya, kalau tidak mereka akan
meriwayatkannya sesuka mereka.

5.Perbedaan imam
yang lain dengan Ibnu Hazm dalam menghukumi “Al Walid bin Jumai’ “ tidak
berarti riwayat yang menyebutkan beberapa nama seperti: Abu Bakar, Umar,
Utsman dan lain-lain adalah benar; karena memang tidak ada riwayatnya. Akan
tetapi wajib bagi para Imam untuk menerima riwayat seorang muslim yang
menyebutkan kejadiannya dari jalur al Walid, dan kami tidak mengetahui dari
orang-orang yang berkutat dengan ilmu hadits mendahulukan Ibnu Hazm dari
pada para imam besar yang telah kami sebutkan dari ulama hadits.

6.Maka dari itu
ada dua perkara:

a.Riwayat yang
asli yang ada pada Shahih Muslim tanpa menyebutkan nama-nama yang termasuk
orang-orang munafik yang mau membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
dha’if menurut Ibnu Hazm, karena dha’ifnya Al Walid bin Jumai’ baginya, dan
sebelumnya telah mendha’ifkannya pada hadits Hudzaifah dan bapaknya, ketika
mengadakan perjanjian dengan orang-orang musyrik untuk tidak memerangi
mereka di “Badar”, hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim juga.

7.Riwayat yang di
dalamnya disebutkan nama-nama orang yang mencoba akan membunuh Nabi, di
antaranya: Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah dan lain-lain adalah palsu,
bohong, sebagimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hazm –rahimahullah-. Ibnu Hazm
telah mendoakan celaka bagi orang yang memalsukannya, dan beliau juga telah
memastikan kedustaannya. Bukanlah illat (sebab palsunya) karena adanya Al
Walid bin Jumai’, tetapi dipalsukan oleh pendusta yang tersembunyi yang
disisipkan pada riwayat al Walid. Ibnu Hazm –rahimahullah- juga telah
memastikan bahwa al Walid tidak mengetahui siapa yang memalsukannya, itulah
juga yang kami pastikan.

8.Yang aneh bagi
kami bahwa tidak ada satu pun riwayat dari pihak Rafidhah untuk menetapkan
Abu Bakar, Umar, Utsman –radhiyallahu ‘anhum- bahwa mereka ikut mencoba
ingin membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- di Aqabah Tabuk, mereka
tidak mendapatkan kaitan yang lain kecuali riwayat Ibnu Hazm –rahimahullah-,
marilah kita mengobati mata mereka, menyungkurkan hidung mereka dengan
periwayatan ini, mudah-mudahan mereka berhenti tidak menjadikan riwayat Ibnu
Hazm sebagai dalil mereka.

Beliau –rahimahullah-
berakata:

Adapun perkataan mereka
orang-orang Nasrani, bahwa kelompok Rafidhah telah merubah al Qur’an, maka
sesungguhnya kelompok tersebut tidak termasuk umat Islam, akan tetapi mereka
adalah firqah (kelompok) yang muncul pertama kali 25 tahun setelah
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- wafat, dasar pemikiran mereka
adalah: jawaban dari seseorang yang Allah –Ta’ala- telah menghinakannya,
untuk mengajak orang-orang yang baru saja masuk Islam. Mereka adalah
kelompok yang sejalur dengan Yahudi dan Nasrani dalam masalah kedustaan dan
kekufuran.

Mereka adalah sebuah kelompok.
Yang paling berlebih-lebihan (Ghuluw), mereka mengakui akan ketuhanan Ali
bin Abi Thalib, ketuhanan jama’ah yang bersama beliau. Dan bentuk ghuluw
mereka yang paling ringan adalah bahwa matahari pernah dikirimkan kepada Ali
sebanyak dua kali. Inilah kaum yang paling rendah kebohongannya: Apakah
dianggap jelek kedustaan yang selalu mereka kerjakan ?!

Bagi siapa saja yang tidak
menahan diri dari berbohong dalam masalah agama, atau masalah kesucian jiwa,
maka sangat memungkinkan untuk mendustakan apa saja. Dan semua klaim atau
tuduhan yang tidak memiliki bukti, maka tidak akan dijadikan dalil oleh
siapa pun yang berakal, baik klaim baik atau buruk, dan kami –insya Allah-
akan mendatangkan bukti yang jelas, membongkar kedustaan Rafidhah dengan apa
yang telah mereka kerjakan.

(Al Fishal fil Milal wal Ahwa’
wan Nihal: 2/65, Al Khoniji, dan 2/213 Al Jiil)

Keterkaitan Rafidhah Majusi
dengan riwayat yang memang tidak ada telah terbantahkan –dengan izin Allah-
, dan menjadi jelas bagi umat bahwa Ibnu Hazm –rahimahullah- telah
memastikan kedustaannya. Apa yang kami lihat di situs-situs Rafidhah akan
katerkaitan mereka dengan riwayat Ibnu Hazm –rahimahullah- sudah jelas
kedudukannya, dan tidak akan bermanfaat bagi mereka penetapan tuduhan mereka,
segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam.

Ketiga:

Adapun upaya pembunuhan Nabi
–shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang ketiga dan berhasil menurut Rafidhah:
“Mereka mengklaim bahwa ‘Aisyah dan Hafshah –radhiyallahu ‘anhuma- mereka
berdua yang menaruh racun pada mulut Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa
sallam-, dan meninggal dunia disebabkan racun tersebut !, keduanya melakukan
itu atas perintah kedua ayah mereka: Abu Bakar dan Umar –radhiyallahu ‘anhu-.

Dan di antara apa yang
dikatakan oleh penyebar berita palsu tersebut adalah:

“Beberapa riwayat yang
terpercaya ini di dalam kitab-kitab hadits ahlus sunnah mengungkap fakta
persekongkolan besar untuk merevolusi hukum Islam, dan menguasai stabilitas
hukum, yaitu dengan upaya membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-
dengan meminumkan racun kepada beliau”.

Ia juga berkata:

“Dan pendapat yang paling
rajih (kuat), bahwa yang melakukan upaya pembunuhan tersebut adalah ‘Aisyah
dan Hafshah, kedua istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan yang
menyusun strateginya adalah Umar bin Khattan dan Abu Bakar, dan perintah
dari keduanya, mereka juga yang dimanfaatkan oleh Abu Bakar dan Umar untuk
memuluskan tujuannya, kemaslahatan Abu Bakar dan Umar dengan membunuh Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam-.

Demikianlah teks asli riwayat
mereka, dan pendapat para ulama tentang masalah tersebut, dan beberapa
sanggahan kepada Rafidhah yang menuduh dengan tuduhan dusta:

Dari ‘Aisyah berkata:

لَدَدْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِي مَرَضِهِ ، وَجَعَلَ يُشِيرُ إِلَيْنَا ( لَا تَلُدُّونِي ) ، فَقُلْنَا :
كَرَاهِيَةُ الْمَرِيضِ بِالدَّوَاءِ ، فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ : ( أَلَمْ
أَنْهَكُمْ أَنْ تَلُدُّونِي ) ، قُلْنَا : كَرَاهِيَةٌ لِلدَّوَاءِ ، فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَا يَبْقَى مِنْكُمْ
أَحَدٌ إِلَّا لُدَّ وَأَنَا أَنْظُرُ،  إِلَّا الْعَبَّاسَ فَإِنَّهُ لَمْ
يَشْهَدْكُمْ

(رواه
البخاري، رقم  6501  ومسلم ، رقم  2213 ) .

Kami meminumkan (obat) kepada
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada saat beliau sakit, lalu
beliau memberi isyarat kepada kami: “Janganlah kalian meminumkan (obat)
kepadaku !”. Maka kami berkata: Karena sakit beliau tidak mau minum obat.
Dan ketika beliau sadar, beliau bersabda: “Tidakkah saya sudah melarang
kalian untuk meminumkan obat ?!. Kami berkata: “Beliau tidak mau obat”. Maka
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Kalian tidak akan
bertahan hidup kecuali akan dicekoki obat dan saya melihatnya kecuali Abbas,
karena ia tidak menghadiri kalian”. (HR. Bukhori 6501 dan Muslim 2213)

Dari Abu Bakar bin Abdur
Rahman bin Harits bin Hisyam dari Asma binti Umais ia berkata:

أَوَّلُ مَا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي بَيْتِ مَيْمُونَةَ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ حَتَّى أُغْمِيَ
عَلَيْهِ ، فَتَشَاوَرَ نِسَاؤُهُ فِي لَدِّهِ ، فَلَدُّوهُ ، فَلَمَّا أَفَاقَ
قَالَ : ( مَا هَذَا ؟ ) ، فَقُلْنَا : هَذَا فِعْلُ نِسَاءٍ جِئْنَ مِنْ
هَاهُنَا – وَأَشَارَ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ – وَكَانَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ
عُمَيْسٍ فِيهِنَّ قَالُوا : كُنَّا نَتَّهِمُ فِيكَ ذَاتَ الْجَنْبِ يَا
رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : ( إِنَّ ذَلِكَ لَدَاءٌ مَا كَانَ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ لَيَقْرَفُنِي بِهِ ، لَا يَبْقَيَنَّ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَحَدٌ
إِلَّا الْتَدَّ ، إِلَّا عَمَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ – يَعْنِي : الْعَبَّاسَ – ) .

“Awal mula Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- merasakan sakit pada saat berad di rumah Maimunah, lalu
sakit beliau bertambah parah dan sampai pingsan, maka istri-istri beliau
bermusyawarah untuk meminumkan obat kepada beliau, dan akhirnya mereka
meminumkannya. Ketika beliau sadar lalu bersabda: “Apa ini ?”. Kami menjawab:
“Itu adalah perbuatan beberapa istri anda yang datang dari arah sini –menunjuk
ke arah Habasyah-, dan Asma’ binti Umais termasuk dari mereka”. Mereka
berkata: “Sebelumnya kami menuduh (disebabkan) oleh orang-orang yang ada
disekitar anda, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda: “Sungguh ia adalah
penyakit yang sebelumya Allah –‘Azza wa Jalla- tidak mendatangkannya, tidak
seorang pun yang berada di rumah ini kecuali akan menelan obat, kecuali
paman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yaitu: Abbas”.

Dia berkata: “Maimunah pada
saat itu juga meminum obat pada waktu ia berpuasa, karena keadaan Rasulullah
–shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kritis“.

(HR. Ahmad 45/460,
dishahihkan oleh Al Baani dalam “Silsilah Ash Shahihah” 3339)

“Al Ludud”
adalah Obat yang dimasukkan ke dalam salah satu sisi mulut si sakit, atau
dimasukkan dengan jemari atau yang lainnya dan ditahnikkannya.

Adapun “Wujur” adalah bengkak
yang panas disekitar sisi tubuh pada selaput bagian dalam pada tulang rusuk”.

Sisi tubuh yang sebenarnya
memiliki lima penyakit: panas, batuk, sakit kudis, sesak nafas, denyut nadi
yang tidak teratur.

(Baca: “Zaadul Ma’ad fi Hadyi
Khoiril ‘Ibaad”: 4/81-83)

Kami dengan kedua riwayat di
atas memiliki beberapa sikap:

1.Sesungguhnya
yang meriwayatkan kejadian tersebut kepada dunia adalah ‘Aisyah –radhiyallahu
‘anha-. Bagaimana ia bisa meriwayatkan kepada semua orang bahwa ia yang
membunuh Nabinya, suaminya, kekasihnya –shallallahu ‘alaihi w sallam-, Ummu
Salamah juga meriwayatkan kejadian tersebut, Asma’ binti Umais –radhiyallahu
‘anhuma-, mereka semua tercoreng agamanya menurut Rafidhah, dan bersekongkol
untuk membunuh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan pada waktu
bersamaan mereka menerima hadits mereka dalam masalah ini, maka fikirkanlah
keanehan mereka wahai yang masih memiliki akal sehat.

2.Bagaimana
mungkin Rafidhah Majusi mengetahui komposisi dari obat yang diminumkan
kepada Rasulullah oleh ‘Aisyah ?!

3.Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- beliau sendiri yang menyuruh untuk menaruh obat yang sama
pada mulut semua yang berada pada ruangan tersebut, kecuali Abbas –radhiyallahu
‘anhu-. (Kalau memang obat tersebut racun) kenapa beliau yang meninggal
dunia sementara yang lain tidak.

4.Kenapa
Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak memberitahu paman beliau
Abbas –radhiyallahu ‘anhu- dengan apa yang telah mereka lakukan, yaitu;
pemberian racun kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk
ditegakkan hukum qishash kepada para pelakunya. Jika kalian mengatakan bahwa
Nabi telah memberitahukannya, mana dalilnya. Jika kalian mengatakan: beliau
belum memberitahukannya, bagaimana kalian bisa mengetahui bahwa yang
diminumkan adalah racun bukan obat, Abbas sendiri tidak mengetahunya”.

5.Racun yang
diletakkan seorang wanita Yahudi pada makanan yang disuguhkan kepada Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam-. Ketika terungkap dan diberitahukan kepada Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- bahwa kambingnya beracun, maka kenapa tidak berdampak
sama kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dari racun yang ditaruh
oleh ‘Aisyah pada mulutnya ?!

6.Tidak mungkin
obat tersebut diberikan kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tanpa
sebab tertentu, justru beliau diberi obat karena beliau sakait.

7.Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- tidak diberi obat kecuali setelah adanya musyawarah di
antara para istri beliau –radhiyallahu ‘anhunna-.

8.Kami tidak
mengingkari bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- meninggal dunia
karena adanya pengaruh racun, namun racun yang mana ?, itu adalah racun yang
ditaruh oleh perempuan Yahudi pada jamuan dirumahnya. Nabi pun memenuhi
undangannya, dan memuntahkan sesuap yang sudah beliau makan, karena
diberitahu oleh Allah –Ta’ala- bahwa ada racun di dalam makanannya. Maka
Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan adanya efek racun tersebut
pada akhir-akhir masa hidupnya, oleh karenanya beberapa ulama salaf dari
umat ini berkata: “Bahwa sesungguhnya Allah –Ta’ala- menggabungkan bagi Nabi
(derajat) kenabian dan syahid”.

Yang mengherankan, sebagian
orang-orang Rafidhah mengingkari riwayat tersebut, dan membebaskan Yahudi
dari perbuatan keji tersebut, padahal riwayatnya mutawatir, sanadnya shahih,
dan Allah juga mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi mereka selalu membunuh
para Nabi, mereka tetap saja menganggap bahwa Yahudi terbebas dari perbuatan
tersebut. Dan tidak takut akan terbongkarnya sebab pembelaan Rafidhah kepada
Yahudi; karena pendiri madzhab ini adalah Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi,
adalah wajar kalau mereka membebaskan Yahudi dari perbuatan tersebut padahal
riwayatnya shahih, justru tuduhan tersebut mereka lontarkan kepada para
sahabat yang mulia, tanpa adanya sanad yang shahih, maupun dha’if.

9.Adalah jelas di
dalam riwayat bahwa istri-istri Nabi tidak memahami bahwa larangan Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- untuk tidak meminumkan kapadanya obat merupakan larangan
syar’i, mereka memahami bahwa larangan Nabi tersebut karena orang yang sakit
biasanya tidak mau minum obat, secara dzahir hal tersebut tidak bisa
dihindari, sebagian mereka menjelaskan hal tersebut, meskipun belum ada
penjelasan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-; karena hukum asalnya
adalah bersegera melakukan perintah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
mereka melakukan kesalahan dalam menyiapkan obat bagi Rasulullah
–shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hingga mereka memberikan obat yang tidak
sesuai dengan penyebab sakitnya.

            Al Hafidz Ibnu
Hajar –rahimahullah- berkata:

“Bahwa beliau menolak untuk
berobat; karena obatnya tidak sesuai dengan penyakitnya, karena mereka
(keluarga) mengira bahwa penyakit Nabi disebabkan “Dzatul Janbi” (penyakit
biasa pada sisi tubuh), maka mereka memberikan obat yang sesuai dengan
dugaan penyakit tersebut. Padahal sebenarnya bukan karena penyakit tersebut,
sebagaimana yang anda lihat dalam konteks riwayat di atas”. (Fathul Baari:
8/147-148)

10.Apakah
Raslullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengqishas yang meminumkan obat
atau beliau ingin memberi pelajaran kepada mereka?, nampaknya apa yang
dilakukan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- hingga memaksakan kepada
mereka untuk ikut meminum obat hal ini beliau ingin memberikan pelajaran,
dan yang menunjukkan bahwa apa yang dilakukan bukanlah karena qishas adalah
beliau tidak memaksakan mereka untuk minum sebanyak yang beliau minum. 

            Abu Ja’far ath
Thahawi –rahimahullah- berkata:

“Jika ada seseorang yang
berkata: Apakah apa yang disuruh oleh Rasul untuk juga minum obat itu bentuk
qishas atau yang lainnya?, maka dijawab: Perbuatan Nabi tersebut
memungkinkan karena beliau ingin membalas atau memberikan pelajaran, hingga
mereka tidak mengulanginya lagi, dan yang menunjukkan bahwa hal itu bukan
karena qishas adalah bahwa beliau tidak menyuruh untuk minum obat sebanyak
yang beliau minum. Kalau hal itu qishas maka beliau akan menyuruh mereka
minum sebanyak yang beliau minum”. (Syarh Musykil Aatsar: 5/198)

Al Hafid Ibnu Hajar
–rahimahullah- berkata:

“Yang begitu nampak bahwa
beliau ingin memberikan pelajaran kepada mereka, agar mereka tidak
mengulanginya lagi, itu bentuk pelajaran bukan qishas juga bukan balas
dendam”. (Fathul Baari: 8/147)

11.Ada kemungkinan
adanyan kemiripan penyakit dengan yang diderita oleh Rasulullah –shallallahu
‘alaihi wa sallam- . Karena bentuk kedua penyakit tersebut (Dzatul Janbi dan
pengaruh racun) terletak pada tempat yang sama yaitu pada sisi tubuh.

            Ibnul Qayyim
–rahimahullah- berkata:

“Dzatul Janbi menurut para
dokter: ada yang “Hakiki” (benar-benar penyakit), dan ada yang “Ghoiru
Hakiki” (tidak terdeteksi). Yang Hakiki adalah rasa bengkak yang panas yang
menjalar di seputar sisi tubuh, pada selaput bagian dalam tulang rusuk. Dan
yang “Ghoiru hakiki” adalah rasa sakit yang juga menjalar pada bagian sisi
tubuh disebabkan oleh angin yang tebal, menyakitkan, yang tertahan pada
kulit bagian dalam, yaitu: selaput yang membungkus organ dalam, yang
menyebabkan rasa sakit mirip dengan “dzatul janbi” yang sebenarnya tadi.
Bedanya rasa sakit pada yang penyakit ini terus menerus, dan yang haikiki
melebar.

Beliau juga berkata:

“Pengobatan yang ada di dalam
hadits, bukan untuk penyakit yang bagian pertama, akan tetapi untuk yang
bagian kedua yang disebabkan oleh angin yang tebal. Karena “al Qustu al
Bahri” adalah ranting pohon dari india –sebagaimana yang dijelaskan pada
hadits lain-. Diambil sejumput ranting tersebut ditumbuk dengan halus,
dicampur dengan minyak yang dipanasi, dan dipijatkan pada tempat angin
tersebut atau dioleskan, itu adalah obat yang sesuai, bermanfaat, medianya
halal, menyingkirkannya, memberikan kekebalan pada organ dalam, membuka
penyumbatan”. (Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril ‘Ibad: 4/81-82)

Para istri Nabi –radhiyallahu
‘anhunna- mereka meyakini bahwa penyakit yang diderita Rasul –shallallahu
‘alaihi wa sallam- adalah penyakit yang sebenarnya, itulah yang Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- merasa yang dideritanya penyakit yang lain, mereka
memberikan obat untuk penyakit yang lain, obat yang diberikan adalah “Al
qustul Hindi” mereka tumbuk dicampur dengan minyak –sebagimana dalam riwayat
Thabrani- , obat tersebut bermanfaat bagi tubuh meskipun sedang sehat; oleh
karena itu Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyuruh semua yang ada di
sisinya untuk ikut meminumnya, dan siapa yang mau untuk meminumnya, kalau
seandainya obat tersebut bahaya sudah bisa dipastikan Nabi –shallallahu
‘alaihi wa sallam- tidak akan menyuruh mereka untuk meminumnya.

12.Tidak ada dalam
dua riwayat di atas atau yang lainnya penyebutan Abu Bakar dan Umar –radhiyallahu
‘anhu-, akan tetapi yang bermusyawarah hanya para istri beliau, juga tidak
disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa ‘Aisyah dan Hafshah berkonsultasi
kepada ayah mereka untuk melakukan hal tersebut.

Dari semua penjelasan di atas,
menjadi jelas –dengan pentunjuk Allah- semua yang dituduhkan oleh seorang
Rafidhah di atas adalah tidak benar, demikian juga yang disampaikan oleh
“Najah at Thaa-i” dlam bukunya yang merusak “Apakah Nabi Muhammad mati
terbunuh ?”.

Telah menjadi jelas bagi kami,
setiap kali kami menyanggah syubhat-syubhat mereka kami mendapatkan
kedangkalan cara berfikir mereka, jahatnya apa yang menjadi keyakinan mereka,
juga semakin menjadi jelas bagi kami akan kuatnya ahlus sunnah dalam
hujjah-hujjah mereka, kebenaran dalil mereka, dan cara menyimpulkan dalil
tersebut, inilah merupakan nikmat yang besar dari Allah yang mengeluarkan
kita dari kegelapan menuju cahaya, dan memberikan kepada kita manhaj yang
benar, jalan yang lurus, yang menjadi jelas bagi kami, menerangi jalan kami,
dan tidak ada yang tergelincir dari jalan itu kecuali akan binasa.

Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top