Rambutnya Suka Rontok Dan Berpengaruh Kalau Kepalanya Dibasuh. Bagaimana Mandi Dari Haidh Dan Nifas?

Pertanyaan

Saudari kami seiman, mengeluh rambutnya rontok, sementara dokter memintanya agar tidak membasuhnya dengan air kecuali sekali dalam seminggu disertai dengan pengobatan selama tiga bulan. Bagiamana caranya dia bersuci dari janabat?

Alhamdulillah.

Yang
diwajibkan adalah mandi junub dengan meratakan air ke seluruh badan. Kecuali
jika sang wanita adalah orang yang mengepang rambutnya, maka tidak
diharuskan melepasnya. Cukup menuangkan air ke atasnya hingga sampai ke
seluruh rambutnya.

Hal
tersebut berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Ummu Salamah radhiallahu
anha, dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah wanita yang mengepang
rambut, apakah harus saya lepas untuk mandi junub? Dia berkata,

لا ، إِنَّمَا يَكْفِيكِ
أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ، ثُمَّ تُفِيضِينَ عَلَيْكِ
الْمَاءَ فَتَطْهُرِينَ

“Tidak,
cukup engkau menyiram kepalamu sebanyak tiga kali, kemudian tuangkan air ke
tubuhmu hingga suci.”

Dalam
riwayat lain, (Ummu Salamah berkata), ‘Apakah aku lepas untuk mandi haid
atau junub?’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’

Imam Nawawi
rahimahullah berkata dalam Syarah Muslim, “Mazhab kami dan mazhab jumhur
berpendapat bahwa kepang wanita yang mandi junub, jika air sampai ke seluruh
rambutnya bagi di luar atau di dalam tanpa melepas kepangnya, maka tidak
wajib dilepas. Jika air tidak sampai kecuali dengan melepasnya, maka wajib
dicopot. Hadits Ummu Salamah dipahami bahwa air telah sampai ke seluruh
rambutnya tanpa dicopot. Karena menyampaikan air itu wajib. Diriwayatkan
dari An-Nakhai tentang wajibnya melepas kepang rambut dalam segala kondisi.
Sedangkan Al-Hasan dan Thawus berpendapat wajibnya melepas kepangan dari
mandi haidh dan tidak dari mandi junub. Dalil kami adalah hadits Ummu
Salamah.”

Kalau
penggunaan air berbahaya baginya dan mengakibatkan rontok rambutnya. Maka
dia bertayamum dan membasuh sisa tubuhnya berdasarkan firman Allah:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى
أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ
النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا  (سورة
المائدة: 6)

“Dan jika
kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus)
atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka
bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu
dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)

Dalam ayat
ini terdapat dalil bahwa orang yang sakit, apabila khawatir jika menggunakan
air akan menunda kesembuhannya, dibolehkan baginya bertayammum. Allah telah
jelaskan hikmah syariat ini dengan berfirman,

 مَا يُرِيدُ اللَّهُ
لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ
وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  (سورة المائدة: 6)

“Allah
tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan
menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6)

Jika
memungkin baginya mengusap rambutnya, hendaknya dia mengusapnya dan
bertayammum dan membasuh bagian tubuh lainnya, karena itu sesuai
kemampuannya dan Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas
kemampuannya.

Syekh
Bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Saya adalah wanita yang sudah menikah
dan menderita sakit alergi di dada. Saya selalu flu sepanjang tahun,
bagaimana saya shalat? Apakah saya mandi tanpa membasuh kepala dan cukup
mengusapnya saja? Karena saya akan
mengalami flu setiap kali saya membasuh kepala beberapa kali dalam sepekan.
Saya bahkan meninggalkan shalat karena saya tidak mampu membasuh kepala dan
hanya mengusapnya saja. Saya sangat bimbang dan khawatir, meskipun saya tahu
bahwa Islam adalah agama yang mudah. Mohon jawaban tuntas agar saya dapat
hidup tentram dan menunaikan kewajiban dengan sempurna. Saya adalah seorang
guru dan setiap hari pergi bekerja dan kadang saya masuk angin sehingga
harus istirahat di tempat tidur. Allah mengetahui, saya sangat bingung
antara hal tersebut dnegan melalui kehidupan rumah tangga, yaitu taat
terhadap suami dan tentunya taat kepada Allah. 

Beliau menjawab, 

Jika berbahaya bagi anda untuk membasuh kepala saat mandi
junub dan haidh, maka cukup anda mengusapnya disertai tayammum.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Bertakwalah kalian
kepada Allah semampu kalian.” Juga berdasrkan sabda Nabi shallallahu alaih
wa sallam, “Apa yang aku larang dari kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku
perintahkan terhadap kalian, maka lakukanlah semampu kalian.” (Dikutip dari
Fatawa Islamiyah, 1/214)

Lihat tata
cara tayammum dalam jawaban soal no. 21074.

Tayammumnya
dapat dilakukan sebelum mandi atau sesudahnya. Karena tertib di antara
anggota badan tidak diwajibkan dalam mandi.

Perlu
diperhatikan bahwa sebagian wanita sangat berlebihan  kekhawatirannya
terhadap rontoknya rambut. Rontoknya rambut yang menyebabkannya mendapatkan
keringanan (rukhshah) untuk tidak membasuh kepalanya dan cukup mengusapnya
serta tayammum adalah yang bersifat penyakit yang nyata, bukan sekedar
bayang-bayang ketakutan.

Wallahua’lam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top