Petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Dalam Pernikahan

Pertanyaan

Bagaimana petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam pernikahan, seperti mahar, resepsi pernikahan, walimah dan lain sebagainya. Saya mengharap penjelasannya secara detail?

Alhamdulillah.

Petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam pernikahan
adalah menganjurkan kesederhanaan, mengumumkannya, menampakkan kegembiraan,
menyebarkan kabar gembira tersebut, melaksanakan walimah dan menyebarkan
undangan untuk itu. Diperintahkan bagi orang yang diundang untuk
menghadirinya. Meskipun di antara orang yang diundang tersebut ada yang
sedang berpuasa maka hendaklah dia tetap hadir dan mendoakan orang yang
melangsungkan walimah, tidak wajib baginya untuk memakan makanan.

Kemudian interaksi suami istri secara ma’ruf,
melakukan  hubungan sebab
akitab.
Kesemua ini merupakan keterangan global.
Kami
akan
paparkan kepada anda penjelasan dan perinciannya:

Pertama:
Mempermudah Dalam Masalah Mahar 

Al Baihaqi meriwayatkan ( 14721 ) sesungguhnya Nabi
Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرَهُ

“Sebaik-baik
mahar adalah yang paling ringan.”
 

Dan hadits yang sama diriwayatkan oleh Abu Daud,
no.
2117,
dengan lafaz,

خير النكاح أيسره

“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling ringan
(maharnya).”

Dishahihkan oleh Al Albani.

قال في عون المعبود :

Disebutkan dalam kitab Aunul Ma’bud : “ Yang dimaksud dengan
ringan adalah Memudahkan mempelai pria dengan menjadikan murah nilai mahar
dan lainnya.

Al Allamah As Syaikh Al Azizi berkata,

 yaitu murahnya
mahar, atau memudahkan dalam menerima pinangan.”

وروى الترمذي (1114) عن عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رضي الله عنه
قال : (أَلَا لَا تُغَالُوا صَدُقَةَ النِّسَاءِ , فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ
مَكْرُمَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ تَقْوَى عِنْدَ اللَّهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ
بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , مَا عَلِمْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَكَحَ شَيْئًا مِنْ
نِسَائِهِ وَلَا أَنْكَحَ شَيْئًا مِنْ بَنَاتِهِ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ
عَشْرَةَ أُوقِيَّةً) صححه الألباني في “صحيح الترمذي” .

Imam Ahmad ( 23957 ) dan Ibnu Hibban ( 4095 ) meriwayatkan 
dari A’isyah Radliyallahu Anha sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ : تَيْسِيرَ خِطْبَتِهَا ،
وَتَيْسِيرَ صَدَاقِهَا ، وَتَيْسِيرَ رَحِمِهَا

(حسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 2235)

“Sesungguhnya diantara kebaikan seorang perempuan adalah,
mudah meminangnya, ringan maharnya, dan subur rahimnya.”
(Dihasankan
oleh Al Albani dalam Shahihul Jami, no. 2235).

Imam Tirmizi meriwayatkan, no. 1114, dari Umar bin Al
Khatthab Radliyallahu Anhu dia berkata,

“Janganlah kalian menjadikan mahal mahar kaum wanita, karena
sesungguhnya jika itu sebabkan kehormatan di dunia atau ketakwaan di sisi
Allah, pastilah hal itu akan lebih diutamakan oleh Nabi Allah Shallallahu
Alaihi Wasallam, saya tidak mengetahui Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam menikahi seorang pun dari Istri-istri beliau dan tidak pula
menikahkan seorang pun dari putri-putri beliau lebih banyak dari dua belas
uqiyyah.” (Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Turmudzi)

Satu Uqiyyah setara dengan 40 dirham, ukuran satu dirham
dibandingkan gram adalah  2.975 gram.

Kedua: Pengumuman pernikahan

Imam At Tirmizi meriwayatkan (1089) dari Aisyah Radliallahu
Anha, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ (وحسنه الألباني في الإرواء، 7/50)
.

“Umumkanlah pernikahan ini.”  Dihasankan oleh al Albani dalam
“ Al Irwa’ ” ( 7/50 ).

Imam Nasai meriwayatkan (3369) dari Muhammad bin Hathib
Radliyallahu Anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda :

فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ : الدُّفُّ ،
وَالصَّوْتُ فِي النِّكَاحِ (وحسنه الألباني)

“Pemisah antara yang halal dan yang haram adalah kendang dan
bunyi-bunyian dalam (resepsi) pernikahan.” (Dihasankan oleh Al Albani0

Memukul kendang dalam pernikahan dikhususkan bagi kaum
wanita.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Al Fath menyebutkan,
“Hadits-hadits yang kuat tentang hal tersebut adalah pemberian izin bagi
kaum wanita untuk memukul rebana.  Dan kaum lelaki tidak dimasukkan dengan
mereka (dalam hal kebolehannya), berdasarkan keumuman larangan bagi lelaki
menyerupai kaum wanita.”

Ketiga: Walimah

Hukumnya merupakan sunnah muakkadah dalam pernikahan dan dia
bagian dari pengumuman pernikahan. Wujudnya adalah menampakkan kebahagiaan
serta kesenangan.

Dan dari Anas Radliallahu Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu
Alaihi Wasallam bersabda kepada Abdur Rahman bin Auf ketika dia menikah,

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

(متفق عليه)

“Laksanakanlah walimah meski hanya memotong seekor kambing.”
(Muttafaq alaihi)

Sebagaian ulama berpendapat wajibnya walimah sebagaimana
riwayat berikut :

Sebagaimana riwayat Ahmad (22526) dari Ibnu Buraidah dari
ayahnya dia berkata, ketika Ali meminang Fathimah, semoga Allah Ta’ala
meridhai keduanya, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda, 

إِنَّهُ لَا بُدَّ لِلْعُرْسِ مِنْ وَلِيمَةٍ

 (قال الألباني في آداب الزفاف، رقم 72 وإسناده – كما قال
الحافظ في الفتح  لا بأس به)

“Sesungguhnya
harus
dilaksanakan
walimah dalam sebuah pernikahan.” 
(Al
Albani mengatakan dalam Adab Az Zafaf,
no.
72. Sanad
hadits tersebut –sebagaimana ungkapan al hafidz dalam Al fath– tidak ada
masalah.”

Wajib
hadir dalam walimah apabila memang diundang, sebagaimana
riwayat :

Dan dari Abdullah bin Umar Radliyallahu anhuma sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا
(متفق عليه)

“Apabila salah seorang dari kalian diundang kepada sebuah
walimah maka hendaklah dia mendatanginya.” (Muttafaq Alaih)

Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata :

“Para Ulama Rahimahumullah menyebutkan, ‘Sesungguhnya wajib
mendatangi undangan pernikahan pada hari pertama. Yaitu walimah pertama
ketika dia memang dipilih untuk diundang. Apakah diundang dengan langsung
didatangi secara pribadi, atau lewat perantara, atau dengan kartu undangan
yang dikirimkan kepadanya. Dengan syarat di dalam walimah tersebut tidak ada
kemungkaran. Jika didalamnya ada kemungkaran maka ada perinciannya, apabila
dia hadir dan memungkinkan baginya mencegah kemungkaran maka wajib atasnya
menghadirinya. Namun jika dia tidak mampu untuk itu maka dia tidak boleh
menghadirinya.” (Liqo Babil Maftuh, 13/133).

Silakan merujuk jawaban soal no. 22006.

Dibolehkan walimah dengan tanpa daging, sebagaimana riwayat
Al Bukhari ( 4213 )

Dari Anas Radliyallahu Anhu dia berkata,  

أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ
خَيْبَرَ وَالْمَدِينَةِ ثَلَاثَ لَيَالٍ يُبْنَى عَلَيْهِ بِصَفِيَّةَ ،
فَدَعَوْتُ الْمُسْلِمِينَ إِلَى وَلِيمَتِهِ ، وَمَا كَانَ فِيهَا مِنْ خُبْزٍ
وَلَا لَحْمٍ ، وَمَا كَانَ فِيهَا إِلَّا أَنْ أَمَرَ بِلَالًا بِالْأَنْطَاعِ
فَبُسِطَتْ فَأَلْقَى عَلَيْهَا التَّمْرَ وَالْأَقِطَ وَالسَّمْنَ

“Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melangsungkan pernikahan
dengan Shafiyah selama tiga malam di tempat antara Khaibar dan Madinah. Lalu
aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah tersebut. Di sana
tidak ada roti juga tidak daging, tidak ada apapun melainkan beliau
memerintahkan Bilal untuk menghamparkan semacam permadani dan dihidangkan di
atasnya korma, keju kering dan samin.”

Keempat :

Sangat dianjurkan mengucapkan
ucapan selamat
kepada kedua

mempelai sebagaimana ungkapan kebahagiaan Rasulullah Shallallahu alaihi
Wasallam :

Dari abu Hurairah Radliyallahu Anhu sesungguhnya Nabi
Shallallahu alaihi Wasallam apabila beliau memberikan ucapan selamat kepada
orang yang menikah beliau mendoakannya  dengan doa,

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ ، وَجَمَعَ
بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ(

رواه أبو داود، رقم 2130وصححه الألباني)

“Semoga Allah memberkatimu, memberkati apa yang menimpamu dan
menghimpun kalian berdua dalam kebaikan ) hadits riwayat abu Daud ( 2130 )
dan dishahihkan oleh Al Albani.

Kelima:

Sangat dianjurkan bagi suami ketika
pertama kali menjumpai
istrinya,
beberapa hal berikut,


Bersikap
lembutan kepada istri saat pertama kali menjalin hubungan
dengannya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (26925) dari Asma binti Umaisy
Radliyallahu Anha dia berkata,

كُنْتُ صَاحِبَةَ عَائِشَةَ الَّتِي هَيَّأَتْهَا
وَأَدْخَلَتْهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَمَعِي نِسْوَةٌ . قَالَتْ : فَوَاللَّهِ مَا وَجَدْنَا عِنْدَهُ قِرًى إِلَّا
قَدَحًا مِنْ لَبَنٍ قَالَتْ : فَشَرِبَ مِنْهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ عَائِشَةَ
فَاسْتَحْيَتْ الْجَارِيَةُ فَقُلْنَا : لَا تَرُدِّي يَدَ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْهُ . فَأَخَذَتْهُ عَلَى حَيَاءٍ
فَشَرِبَتْ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ : نَاوِلِي صَوَاحِبَكِ . فَقُلْنَا : لَا
نَشْتَهِهِ . فَقَالَ : لَا تَجْمَعْنَ جُوعًا وَكَذِبًا .

“Aku adalah sahabat
Aisyah yang menyiapkannya dan mengantarkannya menemui  Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasalam, bersamaku beberapa wanita. Demi Allah kami tidak
mendapati suguhan atau jamuan yang beliau miliki melainkan satu mangkuk yang
berisikan susu. Lalu Rasulullah minum dari bejana tadi kemudian
memberikannya kepada Aisyah dan dia (Aisyah) menjadi malu.
Maka
kami berkata,
‘Janganlah
engkau menolak tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam,

ambillah dari beliau.”
Kemudian Aisyah pun meraihnya dengan perasaan malu lalu meminum dari bejana
tadi. Kemudian
beliau bersabda,
‘Berikanlah
kepada sahabat-sahabatmu.’
Kami
pun berkata, ‘Kami
tidak selera.’
lalu beliau bersabda,
‘Janganlah
kalian berkumpul dalam kondisi lapar dan berdusta.”
(Dihasankan
oleh Al
Albani dalam kitab Aadabuz Zafaf,
19).


Meletakkan tangan diatas kepala atau ubun-ubun isti dan
mendoakannya :

Sebagaimana riwayat
Abu Daud (2160) dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi
Shallallahu Alaihi Wasalam beliau bersabda,

“Jika
salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita, 
maka hendaklah dia meletakkan tangannya diatas ubun-ubunnya dan berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا
جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا
جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

(حسنه الألباني)

“Ya
allah aku memohin kepada Engkau kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau
ciptakan untuknya, dan aku berlindung kepada Engkau dari keburukannya dan
keburukan apa yang Engkau ciptakan padanya.”
(Dihasankan
oleh Al
Albani)


Dan sebagian ulama salaf menganjurkan agar suami-stri
tersebut shalat dua rakaat bersama-sama :

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (17156) dari Syaqiq, dia
berkata, “Seseorang datang kepada Abdullah bin Masud seraya berkata,
‘Sesungguhnya aku menikahi perempuan muda dan saya takut dia akan
membenciku, dia berkata, lalu Abdullah berkata,  

إن الألف من الله ، والفرك من الشيطان ، يريد أن يكره إليكم ما
أحل الله لكم ، فإذا أتتك فمرها أن تصلي وراءك ركعتين

(صححه الألباني في “آداب الزفاف”)

“Sesungguhnya
kelembutan itu datangnya dari Allah dan kemurkaan itu datangnya dari Syaitan.
Dia
menginginkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah kepadamu menjadi
membencimu. Maka
apabila engkau mendatanginya hendaklah engkau memerintahkannya agar dia
shalat dibelakangmu sebanyak dua rakaat.”
(Dishahihkan
oleh Al Albani
dalam kitab “Adabuz Zafaaf”).


Berdoa
 ketika hendak menggauli istrinya,

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ
الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut
nama Allah, ya Allah jauhkanlah syetan dari kami dan jauhkanlah syetan dari
apa yang Engkau rizkikan kepada kami.”

Sebagaimana riwayat Al Bukhari (3271) dari Abdullah bin Abbas
Radliallahu anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasalam,
beliau bersabda,

أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ وَقَالَ : بِسْمِ
اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا
رَزَقْتَنَا ، فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ

“Adapun sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian
jika hendak menggauli istrinya, maka hendaknya dia berdoa, “Dengan menyebut
nama Allah, ‘Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah syetan dari
apa yang Engkau rizkikan kepada kami,’ maka keduanya diberikan rizki berupa
anak yang tidak akan diganggu oleh setan.”

#Dan akhirnya…wasiat ini sangat ditekankan kepada
berinteraksi dan mempergauli secara baik, dan hendaklah kedua belah pihak
antara suami dan istri mengedepankan bertakwa kepada Allah. Allah Azza wa
Jalla berfirman :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
(سورة النساء: 19)

“Dan
bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai
mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS.
An Nisaa:
19)

Dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا
وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا : ادْخُلِي الْجَنَّةَ
مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْت

(صححه
الألباني في “تخريج المشكاة”، رقم 3254)

“Apabila seorang istri shalat lima waktu, puasa bulan
Ramadlan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya maka dikatakan
kepadanya, ‘Masuklah engkau dari pintu surga mana saja yang engkau
kehendaki.”  (Dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab Takhriijul Misykaat,
no. 3254)

Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top