Membayar Mahar Mempelai Wanita Dengan Harta Saudara Lelakinya

Pertanyaan

Ada sepasang suami-istri memiliki dua orang anak lelaki dan perempuan dan setelah pencarian yang panjang suami-istri tersebut mendapatkan seorang pemuda yang kelak menjadi suami dari putri mereka. Akan tetapi pemuda tersebut atau mempelai putra ini meminta kepada kedua suami-istri atau orang tua mempelai wanita mahar pernikahannya, padahal mereka berdua tidak memiliki mahar yang telah ditentukan oleh mempelai pria tersebut. Oleh sebab itu kedua orang tua ini berusaha mendapatkan mahar untuk putrinya yang akan dibayarkan kepada calon suaminya dari mahar anak lelaki mereka (anak lelaki mereka juga akan menikah dan mempunyai beberapa harta yang akan dipergunakan untuk mahar pernikahannya). Jadi intinya kedua orang tua ini mereka tidak menggunakan mahar putra mereka kecuali untuk membayar mahar putri mereka. Saya berharap anda memberikan sedikit pencerahan dan berikanlah kami nasehat agar kami bisa menghadapi permasalahan tersebut.

Alhamdulillah.

Termasuk sesuatu yang aneh
dan mengherankan bahwa terjadi di sebagian negara mahar pernikahan dibayar
oleh seorang istri atau keluarga mempelai putri dan dibayarkan kepada
mempelai putra atau keluarganya. Hal ini sangat berlawanan dengan asal
syariat Islam.  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memerintahkan
seorang lelaki yang hendak menikah agar mencari mahar apapun yang dia miliki
meski itu hanya berupa cincin yang terbuat dari besi, dan ketika dia tidak
mendapatkan apapun yang bisa dipergunakan untuk mahar maka beliau
Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan maharnya adalah agar dia
mengajarkan kepada istrinya kelak dari al Quran yang telah dihafalnya. 

Dan yang terpenting adalah
hendaknya semua yang dinamakan akad nikah ada sesuatu mahar yang dibebankan
kepada seorang suami meski hanya sedikit.

Dari Sahl bin Sa’ad dia
berkata:

جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت إني وهبت
منك نفسي فقامت طويلا فقال رجل : زوِّجْنيها إن لم تكن لك بها حاجة ، قال : هل
عندك من شيء تصدقها ؟ قال : ما عندي إلا إزاري ، فقال : إن أعطيتَها إياه جلستَ
لا إزار لك ، فالتمس شيئاً ، فقال : ما أجد شيئاً ، فقال :  ولو خاتَماً مِن
حديد ، فلم يجد ، فقال : أمَعَكَ من القرآن شيء ؟ قال : نعم ، سورة كذا وسورة
كذا – لِسُورٍ سمَّاها – فقال : زوَّجناكها بما معك من القرآن . رواه البخاري 
( 4842 ) ومسلم ( 1425 )

Seorang perempuan datang
kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seraya berkata, “Sesungguhnya
aku menyerahkan diriku kepadamu.” Lalu dia berdiri lama (menunggu jawaban
dari Rasulullah). Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah nikahkanlah
aku dengan dia jika memang anda tidak memiliki kebutuhan dengannya.” Beliau
bersabda, “Apakah engkau memiliki sesuatu yang bisa kau sedekahkan untuknya
(mahar untuknya)?” Dia menjawab, “Saya tidak memiliki sesuatu apapun
melainkan sarungku ini saja,” beliau bersabda, “Jika engkau memberikan
sarungmu kepadanya maka engkau akan duduk tanpa sarung, carilah sesuatu di
rumahmu,” Lelaki menjawab, “Aku tidak mendapatkan apapun,” beliau kembali
bersabda, “Carilah meski itu hanya sekedar cincin yang terbuat dari besi,”
maka diapun tidak mendapatkannya, lalu beliau bertanya lagi, “Apakah engkau
memiliki sesuatu dari Al Qura’an?” Dia menjawab, “Ya, saya hafal surat ini
dan surat itu,” dia menyebutkan nama-nama surat yang dia hafal. Maka beliau
bersabda, “Kami nikahkan engkau dengan apa yang engkau hafal dari Al
Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 4842 dan Muslim, no. 1425)

Maka di dalam hadits tersebut
menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak ridha kepada
seorang lelaki yang apabila dia menikah maka harus ada mahar yang dibayarkan
kepada pihak perempuan dan sama sekali tidak menuntut sesuatu apapun dari
pihak perempuan. Kemudian pemahaman dari Qowamah atau tanggung jawab yang
Allah Ta’ala mewajibkannya kepada para lelaki atas kaum wanita adalah
hendaknya lelaki itulah yang membayar untuk si wanita karena dia merupakan
pengayom bagi wanita karena dia sebagai sosok yang lemah di sisi lelaki.
Allah Ta’ala berfirman :

الرجال قوَّامون على النساء بما فضَّل الله بعضهم على بعض وبما
أنفقوا مِن أموالهم…

(سورة
النساء: 34)

“Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
(QS. An Nisaa: 34).

Kemudian sesungguhnya mahar
itu merupakan hak bagi seorang wanita karena seorang lelaki akan mendapatkan
kenikmatan darinya dan mahar merupakan pengganti dari kenikmatan tersebut,
Allah Ta’ala berfirman :

فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة
 (سورة
النساء: 24)

“ Maka istri-istri yang telah
kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan
sempurna), sebagai suatu kewajiban… ” (QS. An Nisaa: 24)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah
berkata, Firman Allah Ta’ala,  

فما استمتعتم به منهن فآتوهن أجورهن فريضة

“Maka istri-istri yang telah
kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan
sempurna), sebagai suatu kewajiban.”

Maksudnya adalah sebagaimana
kalian telah menikmati mereka maka berikanlah kepada mereka mahar mereka
sebagai ganti kenikmatan yang telah kalian peroleh, sebagaimana firman Allah
Ta’ala :

وكيف تأخذونه وقد أفضى بعضكم إلى بعض

Bagaimana kamu akan
mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan
yang lain sebagai suami-istri. Dan sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

وآتوا
النساء صدُقاتهنَّ نِحلة

“Berikanlah maskawin (mahar)
kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan ”.
Dan sebagaimana Firman-Nya :

ولا يحل لكم أن تأخذوا مما آتيتموهن شيئاً

“Tidak halal bagi kamu
mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka.” (Tafsir
Ibnu Katsir, 1/ 475)

وعن
عائشة

رضي

الله

عنها

،

قالت
:
قال
رسول

الله

صلى

الله

عليه

وسلم
:  

Dari Aisyah Radliyallahu Anha
dia berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

أيما

امرأة

أنكحت

نفسها

بغير

إذن

وليها

فنكاحها

باطل

،

باطل

،

باطل

،

فإن

دخل

بها

فلها

المهر

بما

استحل

من

فرجها

،

فإن

اشتجروا

فالسلطان

ولي

من

لا

ولي

له

(رواه الترمذي، رقم  1102 وأبو

داود، رقم  2083
وابن
ماجه، رقم 1879،
قال
أبو عيسى الترمذي : هذا حديث حسن)

“Siapa saja wanita yang
menikahkan dirinya sendiri tanpa izin walinya, maka pernikahannya batil,
batil, batil. Jika suaminya telah menggaulinya maka bagi wanita tersebut
mahar dari kehormatan yang telah diberikannya dan dihalalkan baginya. Jika
ada perselisihan dari wali keluarga wanita, maka penguasa atau hakimlah yang
berhak menjadi wali bagi wanita yang tidak memiliki wali.” (HR. Tirmizi, no.
1120, Abu Daud, no. 2083 dan Ibnu Majah, no. 1879). Abu Isa At-Tirmizi
mengatakan, “Hadits ini derajatnya Hasan)

Dari hadits ini menjadi jelas
bahwa mahar itu dari mempelai laki-laki yang diberikan kepada mempelai
wanita bukan sebaliknya. Syekh Abdullah bin Qu’ud berkata, “Mahar itu
menjadi hak bagi seorang istri dan wajib untuk disebutkan jumlahnya dan sama
sekali bukan merupakan kewajiban yang dibebankan kepada seorang istri maupun
kepada keluarganya kecuali jika mereka ingin bersedekah.”

Dan atas dasar itu semua maka
tidak dibolehkan bagi kalian mengambil dari harta benda anak lelaki untuk
kalian bayarkan sebagai maharnya putri kalian. Syekh Al Baraak berkata,
“Jika pada dasarnya tidak dibolehkan bagi anak lelaki untuk mengambil harta
dari saudaranya maka tidak dibolehkan pula mengambilnya untuk anak perempuan.”

Dan apabila kalian bertakwa
kepada Allah maka Allah akan menjadikan bagi putri kalian kemudahan dan
solusi. Dan bagi putri kalian hendaknya dia bersabar dan berserah kepada
Allah, dan senantiasa memohon kepada Allah dengan mengulang-ulang doa karena
sesungguhnya Allah beserta prasangka baik hamba-Nya .

Sudah selayaknya bagi para
ulama, para Muballigh dan masyarakat pada umumnya  di negara kalian untuk
berusaha merubah adat kebiasaan yang buruk tersebut dan beralih mengikuti
sunnah serta kebenaran yang tidak dibolehkan mengingkarinya, dan yang
demikian itu dengan menegakkan hujjah atau bukti-bukti dari Al Qur’an dan As
Sunnah serta pendapat para ulama di hadapan umat manuasia.

Wallahu A’lam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top