HUKUM UNGKAPAN ‘ALLAH DENGAN MATA TIDAK KITA LIHAT, TAPI DENGAN AKAL DAPAT KITA KETAHUI.’

Pertanyaan

Apa hukum ungkapan ‘Allah tidak kita lihat, tapi dengan akal kita mengetahuinya’

Alhamdulillah.

Kalimat ini mencakup dua masalah, pertama, kebenaran yang
tidak diragukan lagi. Kedua, ada sebagian dari hakekat (kenyataan) akan
tetapi tidak secara sempurna. Penjelasannya adalah:

1.Masalah
pertama, dalam ungkapan mereka ‘Allah tidak kita lihat’ yakni tidak kita
lihat. Ini adalah benar. Karena itu termasuk aqidah ahlus sunnah wal
jama’ah, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah di dunia.
Sesungguhnya melihat-Nya nanti di akhirat, setelah meninggal dunia. Dalam
shahih Muslim , no. 7540, sungguh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى
يَمُوتَ

“Ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun
melihat Tuhannya Azza Wa Jalla sampai dia meninggal dunia.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, ‘Oleh karena itu para ulama salaf dan imam-imamnya sepakat bahwa
Allah dilihat di akhirat dan tidak ada seorang pun melihat dengan matanya di
dunia.‘ (Majmu Fatawa, 2/230)

2.
Sedangkan masalah kedua, ungkapan mereka ‘Dengan akal kami dapat
mengenalnya’ ini bagian dari yang hakekat (kebenaran). Karena dalil-dalil
mengenal Allah berbagai macam, di antaranya secara fitrah, akal, agama dan
perasaan. Di antara dalil logika yang dijadikan sandara para ulama dalam
menetapkan wujud Allah Ta’ala adalah bahwa setiap sebab pasti ada
penyebabnya. Dan setiap yang baru pasti apa penciptanya. Ini adalah dalil
logika. Allah pun telah memerintahkan untuk memikirkan penciptaan langit dan
bumi. Pemikiran ini berasal dari akal. Allah berfirman, ‘Dan
apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala
sesuatu yang diciptakan Allah.’
(QS. Al-A’raf: 185). Firman-Nya pula, ‘Dan mengapa mereka tidak
memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan
bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar.’
(QS. Ar-Rum: 8)

Di antaranya juga perkataan
orang badui, anak onta menunjukkan adanya induk onta, jejak perjalanan
menunjukkan ada yang berjalan. Bumi penuh dengan tumbuh-tumbuhan, langit
penuh dengan bintang gemintang, bukankah itu menunjukkan adalanya Yang Maha
Lembut lagi Maha Mengetahui (Allah).

Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah rahimahullah berkata,

‘Adapun penetapan bahwa
Allah sang pencipta, cara menerangkannya tidak dapat dihitung. Bahkan
mayoritas ulama menyatakan bahwa penetapan Dia sebagai pencipta itu
berdasarkan fitrah, dharuri (keharusan) dan merupakan kepercayaan yang telah
menyatu dalam tabiat (manusia). Oleh karena itu dakwah para Rasul secara
umum adalah beribadah kepada Allah saja tanpa ada sekutu bagi-Nya. Karena
semua umat umumnya mengakui adanya pencipta, namun mereka menyekutukan
ibadah kepada selain-Nya. Karenanya, terhadap mereka yang mengingkari adanya
Sang Pencipta –seperti Fir’aun- para Rasul menghadapainya dengan perkataan
kepada mereka yang telah mengetahui kebenaran. Seperti ucapan Musa kepada
Fir’aun, ‘Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada
yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit
dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.’ (QS. Al-Israa: 102). Ketika
Fir’aun mengatakan, ‘Dan siapa Tuhan semesta alam.’ (QS. As-Syu’ara: 23),
maka Musa mengatakan kepadanya, “Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan
bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu
sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.Berkata Fir’aun kepada orang-orang
sekelilingnya: “Apakah kamu tidak mendengarkan?”
Musa berkata (pula): “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek
moyang kamu yang dahulu.”Fir’aun
berkata: “Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar
orang gila.”
Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa
yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.”
(QS. As-Syuara: 24-28). Minhajus Sunnah, 2/270.

Kenyataan bahwa Allah disifati dengan semua kesempurnaan,
dibersihkan dari seluruh kekurangan juga dapat diketahui lewat logika. Akan
tetapi yang dimaksud adalah pengenalan secara global, sedangkan pengenalan
secara rinci tidak sempurna kecuali lewat agama. Di dalamnya dapat diketahui
Nama-nama dan sifat-Nya yang mulia.

Syekh Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ditanya: ‘Sejauhmana
dibolehkan ucapan orang yang mengatakan ‘Kami kenal Tuhan kami dengan akal
secara terperinci’? terima kasih

Beliau menjawab, ‘Alhamdulillah, waba’du. Sungguh Allah telah
memberikan secara fitrah kepada hamba-Nya untuk mengenal-Nya. Karena
seseorang secara fitrah mengetahui bahwa setiap makhluk pasti ada
penciptanya. Bahwa sesuatu yang baru pasti ada yang menciptakan. Sungguh
Allah telah menyebutkan dalil-dalil kauniyah dari ayat-ayat langit dan bumi
akan keberadaan-Nya. Kekuasaan, ilmu dan hikmah-Nya. Oleh karena itu Allah
menyebutkan hamba-Nya dengan ayat-ayat ini. Sementara orang-orang musyrik
mengingkarinyanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا
وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ (سورة يوسف: 
105)

“Dan banyak
sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka
melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.”
(QS. Yusuf: 105)

Pengetahuan ini di dapatkan dari ayat-ayat kauniyah yaitu
dari pengenalan logika, dengan cara melihat dan berfikir. Oleh karena itu
Allah berfirman:

أَوَلَمْ
يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ
شَيْءٍ (سورة الأعراف: 185)

“Dan apakah
mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang
diciptakan Allah.” (QS. Al-A’raf: 185)

Firman-Nya lagi,

‘Dan mengapa
mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak
menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan
dengan (tujuan) yang benar.” (QS.
Ar-Rum: 8)

Ayat semakna dengan ini banyak sekali. Meskipun begitu,
pengenalan yang didapati dengan logika, adalah mengenal secara global.
Karena manusia tidak mengenal Tuhannya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
pekerjaan-Nya secara terperinci kecuali dengan apa yang ada dari para Rasul.
Diturunkan kitab. Maka dengan kedatangan para Rasul salawatullah wa
salamullah alaihim mengenalkan para hamba kepada Tuhannya, dengan nama,
sifat, dan prilaku-Nya. Dari sisi ini diketahui bahwa logika (akal) lemah,
tidak dapat mengetahui nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan yang seharusnya
(diketahui)  secara terperinci. Cara untuk dapat mengenal Allah nama dan
sifat-Nya secara terperinci adalah lewat apa yang disampaikan para Rasul.
Seorang hamba tidak dapat menguasai pengetahuan seberapapun ilmu yang telah
dia capai, sebagaiamana firman Allah Ta’ala, ‘Sedang
ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.’ (QS. Thaha: 110)

sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam;

لا
أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ (أخرجه
مسلم، رقم 486)

“Saya tidak dapat meghitung pujian kepada Engkau. Engkau
sebagaimana yang telah Engkau sanjung pada diri-Mu.’ (HR. Muslim, no. 486)

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa cara mengenal Allah
dapat dengan dua jalan, secara logika dan naql (wahyu), yaitu berdasarkan
apa yang disampaikan Rasul sallallahu alaihi wa sallam dalam Al-Quran dan
Sunnah. Di antara Nama dan Sifat-Nya ada yang dapat diketahui lewat logika
dan wahyu dan di antaranya ada yang tidak dapat diketahui kecual dengan
wahyu.

Dalam kesempatan ini, sangat bagus untuk diketahui bahwa
kewajiban berhukum kepada wahyu  menjadikan logika mengikuti dan terbimbing
oleh petunjuk Allah. Termasuk kesesatan yang nyata adanya membentukan naql
(wahyu) dengan akal. Sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan kelompok
sesat dari kalangan para filsafat dan mutakallimin.

Allah telah memberikan taufik kepada Ahli sunnah wal jama’ah
berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan sunnah Rasulullah sallallahu’alaihi wa
sallam, mengikuti jejak ulama salafus shaleh, maka mereka berhukum dengan
Kitabullah dan sunnah Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dengan
meletakkan setiap urusan pada tempatnya, mengetahui keutamaan akal dan tidak
meninggalkan petunjukknya. Tidak mengedepankan (akal) atas nash Kitab dan
Sunnah. Sebagaimana yang dilakukan kelompok sesat. Allah telah memberi
hidayah kepada ahli sunnah dengan jalan yang lurus. Maka kami memohon kepada
Allah agar kita dapat melalui jalan orang mukmin, dan semoga kita dijaga
dari jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat. Wallahua’lam. (Dikutip dari
website Syekh hafizahullah)

http://albarrak.islamlight.net/index.php?option=content&task=view&id=1164&Itemid=25

semoga Allah memberikan kemulyaan kami dan anda sehingga
dapat melihat Allah subhanahu wa ta’ala  di surga-Nya.

Wallahu’alam
.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top