Apakah Kalimat Dalam Doa Istikharah ‘Ya Allah, Jika Engkau Tahu Bahwa Perkara ini…’ Merupakan Keraguan Terhadap Ilmu Allah?

Pertanyaan

Dalam doa istikharah yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam terdapat redaksi berikut, ‘Ya Allah, Jika Engkau tahu bahwa perkara ini…dst’ apakah dalam kalimat ‘Jika Engkau tahu’ merupakan bentuk keraguan terhadap ilmu Allah Ta’ala?

Alhamdulillah.

Hal itu bukan
meragukan ilmu Allah. Bagaimana dapat dikatakan meragukan padahal saat
istikharah seorang hamba meminta kebaikan dari Allah Azza wa Jalla dan
petunjuk-Nya?

Bagaimana
pula dikatakan meragukan, padahal dalam doanya dia berkata, ‘Aku memohon
kebaikan dengan Ilmu-Mu’

Bagaimana
pula dikatakan meragukan sedangkan dalam doa tersebut dia mengatakan,
‘Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui,
aku tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui perkara ghaib.’

Al-Hafiz
(Ibnu Hajar Al-Asqalani) berkata dalam Kitab Fathul Bari, “Ucapan ‘jika
Engkau’ Al-Kirmani mempermasalahan kalimat ini, karena bentuk kalimatnya
mengandung keraguan, padahal tidak boleh meragukan ilmu Allah. Hal ini dapat
dijawab bahwa keraguan adalah pada ilmu (seorang hamba) terkait baik atau
buruk, bukan keraguan pada asal ilmunya.

Maka maknanya
adalah, ‘Ya Allah, baik Engkau mengetahui perkara ini baik, atau Engkau
mengetahui perkara ini buruk bagiku, maka jika dia baik, mudahkanlah
bagiku…’

Maknanya
bukan, “Jika Engkau mengetahui perkara ini baik  bagiku, atau Engkau tidak
mengetahuinya. Mustahil hal itu terjadi bagi Allah.’

Dalam
Tuhfatul Ahwazi dikatakan,

Ath-Thayyibi
berkata, “Maknanya adalah, ‘Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui’ kalimat ini
menggunakan bentuk keraguan sebagai bentuk kepasrahan dan ridha terhadap
ilmu-Nya. Bentuk ini oleh ahli balaghah (sastra Arab) dikenal dengan istilah
Tajahul Al-Arif wa mazjusy-syakki bil yaqin (Pengacuhan orang yang telah
mengetahui dan mencampurkan keraguan dalam keyakinan). Kemungkinan juga
maknanya adalah keraguan diri mengetahui mana yang dikehendaki baik atau
buruk, bukan meragukan asal ilmu Allah.” Al-Qari berkata, “Pendapat terakhir
lebih kuat, sedangkan pemahaman pertama hanya boleh terhadap Allah Ta’ala.”

Metode ini
telah dikenal dan popular dalam hadits-hadits dan pembicaraan orang Arab.

Dalam hadits
yang mengisahkan tiga orang yang terjebak dalam goa karena tertutup batu
besar, maka setiap dari mereka berdoa, “

اللَّهُمَّ
إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ
عَنَّا  (متفق عليه ، واللفظ للبخاري ، رقم 3215)

“Ya Allah,
jika engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal tersebut karena berharap
wajah-Mu, maka bebaskanlah aku.” (HR. Bukhari, no. 3215)

Al-Hafiz Ibnu
Hajar Al-Asqalani berkata dalam kitab Fathul Bari, 6/507,

Ucapan
(اللهم إن كنت تعلم) mengandung masalah,
karena seorang mukmin mutlak mengetahui bahwa Allah mengetahui hal tersebut.
Maka jawabannya adalah bahwa dirinya ragu dalam melakukan hal terebut,
apakah menurut Allah diakui atau tidak? Seakan dia berkata, ‘Jika
perbuatanku diterima, maka kabulkanlah doaku.”

Diriwayatkan
oleh Bukhari, no. 7029, dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, dia berkata, Ada
seseorang dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat
mimpi…. Dst. Lalu disebutkan, “Ketika suatu malam, aku berbaring, aku
mengucapkan, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui itu baik bagiku, maka
perlihatkanlah aku dalam mimpi.”

Wallahua’alam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top